
Gerakan serentak ribuan penari itu jadi magnet warga. Yang awalnya jogging dan bersepeda, kompak berhenti untuk menyaksikan pertunjukan kolosal tersebut.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyebut keterlibatan generasi muda adalah kunci agar budaya tidak sekadar jadi pajangan.
“Saya paling senang lihat anak-anak tampil. Mereka dapat ruang berekspresi, ketemu teman, dan kenal budayanya langsung. Ini investasi jangka panjang,” kata Tri.
Ia menekankan budaya akan lestari jika dipraktikkan, bukan hanya diperingati.
“Kalau tidak ada yang mau belajar, menampilkan, dan menikmati, budaya bisa punah. Maka anak-anak harus kita kasih panggung,” ujarnya.
Semangat kreativitas generasi muda juga terlihat dari penampilan lain. Penyanyi cilik asal Bekasi, Annisa Dalimunthe, membawakan lagu “Merah Putih Gemilang”. Annisa sebelumnya pernah tampil di beberapa ajang internasional.
Dari unsur sanggar, ada Sanggar Mekar Muda yang membawakan Tari Bebeg dan Sanggar Wayang Ajen dengan Wayang Jumbo setinggi 4 meter.
Aulia (13), peserta Ronggeng Menor, mengaku grogi tapi bangga.
“Awalnya takut karena penontonnya banyak banget. Tapi pas musik jalan, jadi lupa. Seru tampil bareng teman-teman,” katanya.
Tri berharap PNBK jadi ruang tumbuh bagi anak Bekasi.
“Kita ingin mereka kenal budaya, percaya diri, dan berani berkarya. Tugas kita menyiapkan panggungnya,” tutup Tri.






