
KOTA BEKASI – Ajak siswa dan siswi cinta literasi guru SMPN 27 Kota Bekasi, Desi melalui praktik baik Pentigraf Dalam Fantasi, Komik dalam Kreasi (Pentasi Komika) berhasil membawa namanya menjadi juara 2 guru transformatif dalam penghargaan HGN tingkat kota Bekasi 2026.
Sementara inovasi pembelajaran ini diterapkan karena dari hasil pengamatan yang dilakukan nya, melihat kemampuan menulis anak terutama teks fiksi tergolong rendah dimana anak-anak itu merasa kesulitan dalam menemukan ide, mengembangkan imajinasi dan menuangkan nya secara tertulis.
“Karena dari mereka mengatakan menulis itu tidak perlu panjang-panjang ya Bu. Lalu ada yang bilang juga saya tuh bingung nih Bu ide nya dari mana. Akhirnya saya terinspirasi untuk membuat praktik baik ini,” ujarnya.
Kemudian langkah yang di tempuh adalah dirinya mencoba mengajarkan kepada anak-anak bagaimana teknik Pentigraf. Yaitu cerpen tiga paragraf di formulasikan dan dituangkan dalam bentuk penulisan teks fantasi.
“Anak-anak saya berikan pemahaman tentang Pentigraf. Bagaimana penulisannya, bagaimana batasan-batasannya serta unsur-unsur nya. Metode pembelajaran yang saya terapkan ini berbasis projek,” tuturnya.
Pertemuan yang dilakukan dua sampai dengan empat kali, dimana pertemuan ketiga dan keempat dirinya meminta anak-anak untuk membuat cerita tersebut menjadi komik sederhana.
“Dari komik ini saya berikan kesempatan kepada anak-anak untuk menggunakan aplikasi digital atau membuat komik secara manual. Tentu saja saya memberikan pemahaman bagaimana pembuatan komik itu sendiri,” ucapnya.
Dimana hasil dari penerapan Pentigraf pada teks fantasi ini, anak-anak jadi merasa lebih mudah untuk membuat teks fantasi sebab tidak perlu membuah paragraf yang lebih panjang cukup dengan tiga paragraf saja dan menghadirkan plotwis di akhir paragraf terakhir sudah memudahkan anak-anak.
” Dari situ suasana pembelajaran menjadi hidup karena anak-anak seru bisa mengubah tulisan menjadi sebuah gambar, sebuah karya dan literasi multi model sekolah pun meningkat,” terangnya.
Lebih lanjut, untuk refleksi nya sendiri diri nya merasa sebagai guru tidak pernah menuntut anak-anak untuk membuat karya yang sempurna cukup memberikan ruang untuk anak-anak bisa berkreasi, tumbuh kembang, mengasah imajinasi dan tentunya anak-anak menikmati dan dengan bangga mengapresiasi hasil karya nya sendiri.
“Jadi dari sebuah paragraf bisa menjadi sebuah cerita dari sebuah cerita bisa menjadi sebuah karya dan mudah-mudahan dari sebuah karya bisa melahirkan karakter yaitu cinta literasi,” tungkasnya. (*)

