
CIKARANG BARAT — Menghadapi potensi bencana hidrometeorologi pada akhir tahun, Satuan Kerja Teritorial Patroli Sungai (Satgaster) Batalion Roket 1 Marinir bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi serta Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Provinsi Jawa Barat memberikan edukasi Daerah Aliran Sungai (DAS) kepada puluhan warga Desa Danau Indah, di Aula Kantor Desa Danau Indah, Cikarang Barat pada Kamis (04/12/2025).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama mendorong mitigasi banjir, mengurangi risiko longsor, serta memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan sungai.
Ketua Tim Pengendalian Persampahan DLH Kabupaten Bekasi, Eddy Sirotim, mengapresiasi antusiasme warga, termasuk munculnya inisiatif pembentukan Bank Sampah. Ia menjelaskan bahwa dari total potensi 2.100 ton sampah per hari, hanya sekitar 700 ton yang masuk ke TPA Burangkeng.
“Kami sangat mendukung warga yang ingin membentuk Bank Sampah. DLH akan membina sampai berjalan, dan jika aktif serta pelaporannya baik, kami akan bantu pengajuan baktor. Di lapangan, banyak sampah dari pedagang keliling—seperti tukang nasi goreng dan pecel—yang justru dibuang ke sungai. Melalui Bank Sampah, kami berharap ancaman sampah sungai bisa dikurangi,” ujar Eddy.
Dansatgaster Patroli Sungai Batalion Roket 1 Marinir, Lektol Baron Habibi, menjelaskan bahwa kegiatan edukasi ini merupakan tindak lanjut kerja sama antara Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dan Kepala Staf Angkatan Laut.
“Kami sudah menyisir Kali Cikarang dari Bogor Kelapa Nunggal hingga ke muara di utara Bekasi. Kami menemukan beberapa titik rawan longsor dan bangunan liar, termasuk di Desa Danau Indah,” ungkapnya.
Kepala Bidang Sungai, Pantai dan Pengendalian Banjir DSDA Provinsi Jawa Barat, Hendra Wardana, memaparkan bahwa ancaman hidrometeorologi semakin meningkat akibat perubahan iklim, penurunan kapasitas DAS, urbanisasi tinggi, dan infrastruktur pengendali banjir yang belum sebanding dengan risiko.
“Ketika hujan turun di Puncak Bogor, air dari Bendung Katulampa bisa tiba di Kali Bekasi hanya dalam waktu delapan jam. Jadi meski curah hujan di Bekasi kecil, dampaknya tetap terasa,” jelas Hendra.
DSDA Jabar akan berfokus pada peningkatan edukasi, penanaman pohon sukun dan kelapa di sempadan sungai, serta kampanye pengelolaan sampah yang lebih bijak. “Kami juga akan mengusulkan penguatan penegakan hukum bagi pelaku pencemaran dan pelanggaran sempadan sungai,” tegasnya.






