
Kedua siswa tersebut adalah Nicesila Astagina Kireiriko dalam bidang lomba cipta puisi dan Astrella Tri Maha Dewi dalam bidang lomba bulu tangkis tunggal putri.
Kepala SMAN 10 Kota Bekasi, Dra. Hj. Mukaromah, M.Pd., mengungkapkan rasa bangganya atas prestasi yang diraih oleh para siswa.
“Ini merupakan sebuah ajang bergengsi untuk meningkatkan kreativitas siswa. Prestasi ini menunjukkan bahwa para guru dan siswa kami serius dalam mengikuti kompetisi yang sangat ketat di Kota Bekasi. Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak/ibu guru pembimbing yang telah membimbing siswa kami hingga lolos ke jenjang berikutnya,” ujarnya.
Lebih lanjut Mukaromah berharap kedua siswa dapat meraih kesuksesan hingga tingkat nasional.
“Semoga anak kami bisa berhasil sampai nasional karena dalam cipta puisi diperlukan daya pikir kritis, intuisi, dan pengalaman. Ini bisa menjadi pemantik untuk prestasi selanjutnya.
Mukaromah juga memberikan motivasi bagi siswa yang belum berhasil dalam ajang tersebut. Ia berharap siswa tetap semangat mengikuti perlombaan dalam kesempatan selanjutnya.
“Bagi yang belum berhasil, pengalaman ini bisa menjadi semangat dan motivasi untuk berprestasi di event lainnya. Semangat bertanding lebih penting dari sekadar juara,” katanya.
Dirinya juga mengapresiasi guru-guru seni yang telah mempersiapkan para siswa dengan baik.
“Pengembangan talenta ini sangat penting, dan juara dalam bidang seni bisa menjadi tiket untuk masuk perguruan tinggi. Mudah-mudahan yang mewakili Kota Bekasi ke provinsi bisa sampai ke tingkat nasional dengan kompetisi yang sehat dan juri yang adil,” pungkasnya.
Sementara, Astrella Tri Maha Dewi, mengaku sangat senang bisa menjadi perwakilan untuk kedua kalinya.
“Saya berharap bisa menjuarai tingkat provinsi. Saya sudah berlatih keras untuk ini,” ujar putri ketiga dari tiga bersaudara pasangan ayah Agus Hermanto dan ibu Sholihah ini.
Sedangkan Nicesila Astagina Kireiriko, yang menulis puisi berjudul “Penjara Memorabilia,” merasa senang bisa berpartisipasi dalam lomba ini.
“Puisi ini tentang seorang penulis yang di masa lalunya tidak diapresiasi oleh lingkungan sekitar, namun akhirnya berhasil meraih prestasi melalui sastra. Saya mulai menulis puisi sejak kelas 1 SMP dan sangat senang bisa berkompetisi secara offline untuk pertama kalinya,” ungkap putri pertama dari pasangan ayah Sugiyanto dan Ibu Sulastri ini. (*)






