
Ketika Kirab Boyongan Menjadi Jembatan Budaya di Tanah Perantauan
Pagi itu, Sabtu 2 November 2025, Perumahan Villa Permata di Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, berubah menjadi ruang budaya yang terasa seperti menyatukan dua dunia: antara kampung halaman yang jauh di Jawa dan kehidupan modern yang cepat di Bekasi.
Tidak ada panggung megah, tidak ada dekorasi berlebihan—namun atmosfernya lebih kuat dari itu. Jalan kecil perumahan bergetar oleh suara gamelan, langkah-langkah kirab, dan hiruk senyum warga yang seolah telah lama menunggu momen ini.
Milad ke-12 Majalah dan Media Online Swara Bekasi dirayakan dengan cara yang tidak biasa. Alih-alih menggelar acara formal, redaksi memilih menghadirkan Kirab Boyongan, sebuah tradisi yang dalam budaya Jawa melambangkan perpindahan—bukan sekadar fisik, tetapi juga harapan, doa, dan rasa syukur. Kirab dilakukan untuk memindahkan Sanggar Campursari Swara Bekasi dari lokasi lama ke sanggar baru, namun suasananya jauh lebih besar daripada sekadar pemindahan ruang seni.
Anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak mengenakan busana adat Jawa. Blangkon, kebaya, jarik, dan lipatan kain berpadu dengan warna-warni perumahan urban. Punakawan wayang—Semar dan Gareng—berjalan di depan barisan, menghidupkan kembali humor dan filosofi yang jarang tersentuh oleh generasi muda di tengah gempuran budaya digital.
Pimpinan Redaksi Swara Bekasi, Tarmin yang ikut serta dalam tersebut mengikuti dengan seksama proses tersebut. Ia tahu perayaan ulang tahun ke-12 bukan sekadar perayaan usia, melainkan penegasan bahwa Swara Bekasi ingin tetap menjadi bagian dari denyut sosial dan budaya masyarakat.
“Ini kesempatan langka acara gelaran budaya di sini, Kirab boyongan ini kami lakukan dari sanggar lama ke sanggar baru dengan membawa tumpeng serta alat pukul gamelan sebagai simbol rasa syukur untuk kemajuan Sanggar Campursari Swara Bekasi.”
Tarmin juga mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam kiraban tersebut sehingga meriah dan khidmat. menurutnya keterlibatan warga adalah inti dari acara ini. Kami sengaja melibatkan warga. Selain untuk ajang silaturahmi, ini juga cara melestarikan budaya Jawa di perantauan. Seniman-seniman dari Ngesti Budoyo memberi support besar. Mereka ini guyub untuk kemajuan seni campursari di Kabupaten dan Kota Bekasi.”imbuhnya.
Ia menyebut kegiatan ini sekaligus menjadi titik temu atau Kopi darat (Kopdar) komunitas seni campursari di wilayah Bekasi.
“Ini juga kopi darat Sedulur Seni Campursari Indonesia Korwil Bekasi. Semua seniman kumpul di sini, bersilaturahmi.” jelasnya
Dalam momen tersebut, Tarmin berulang kali menyampaikan rasa terima kasih—bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai ungkapan yang lahir dari pengalaman berinteraksi dengan berbagai pihak yang selama ini membantu Swara Bekasi bertahan dan berkembang.
“Kami berterima kasih kepada warga, masyarakat, semua yang menerima dan membantu kami,” katanya dengan suara yang terdengar tulus.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Walikota Bekasi Dr. Tri Adhianto, Danramil 01 Tambun Mayor Czi Salih, BBJB Cabang Cikarang, BPRS Patriot, BPRS Riyal, KCD Wilayah 3 Disdik Jabar, serta komunitas-komunitas seni dan para perantau yang turut menyukseskan kegiatan tersebut.
Selanjutnya Komandan Rayon Militer ( Danramil ) 01 Tambun Mayor Czi Salih, memberikan sambutan yang tak kalah hangat. Meski tidak terbiasa dengan adat Jawa, ia mengaku merasakan kekuatan nilai-nilai lokal yang terkandung dalam gelaran budaya tersebut.
“Selamat menikmati,” katanya membuka sambutan.
“Alhamdulillah pagi ini saya bisa hadir dalam ulang tahun Swara Bekasi yang ke-12. Semoga kegiatan seperti ini memberi edukasi bagi masyarakat, khususnya di Kabupaten Bekasi.” ujarnya penuh semangat
Ia kemudian menyinggung kondisi seni dan budaya di tengah derasnya arus media digital.
“Seni adalah kearifan lokal yang saat ini makin terkikis. Banyak generasi muda kurang tertarik karena terpengaruh tontonan-tontonan praktis di media sosial. Sayangnya, itu bisa merusak kepribadian bangsa.”
Dengan nada malu-malu, Mayor Sali mengaku dirinya orang Jawa yang tidak bisa berbahasa Jawa.
“Sejak lulus sekolah masuk tentara, saya 20 tahun bertugas di luar Jawa. Istri saya orang Aceh. Sehari-hari saya memakai bahasa Indonesia, anak-anak saya pun tidak menguasai bahasa Jawa,” ujarnya disambut tawa ringan para warga.
Namun ia kembali menegaskan pentingnya momen tersebut.
“Ini momen bagus untuk membangun bangsa ke depan. Tantangannya besar, terutama dari media sosial yang dampaknya luar biasa. Budaya seperti ini harus tetap dijaga.”
Mayor CZI Sali menutup sambutan dengan harapan yang mengalun seirama gamelan.
“Mudah-mudahan Swara Bekasi, para seniman, dan budaya kita tetap eksis dan maju. Semoga langkah ini membawa kita lebih baik ke depan. Terima kasih.” harapnya.
Kirab makin meriah saat tiba ditempat baru. Tumpeng diangkat bersama untuk selanjut dipotong serta dibagikan serta alat pukul gamelan diserahkan kepada Danramil Tambun, Mayor Czi Sali untuk pemukulan simbolis alat gamelan.
Tidak ada kemewahan, tetapi ada kehangatan yang jarang hadir dalam kehidupan kota. Ada napas budaya yang kembali hidup dalam ritme yang pelan namun pasti.
Saat matahari mulai bergerak naik, acara memasuki penghujungnya. Namun jejaknya tidak mudah hilang. Anak-anak masih mencoba menirukan gerakan punakawan, para orang tua berkumpul memandang foto-foto di ponsel mereka, dan beberapa seniman berbincang hingga acara benar-benar usai.
Kirab Boyongan itu, walau sederhana, memberikan pengingat penting: bahwa budaya tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya menunggu kesempatan untuk dipanggil pulang. Dan pada Milad ke-12 Swara Bekasi, budaya itu pulang dengan megah—diiringi langkah-langkah kecil warga, suara gamelan, dan harapan bahwa di tengah kota yang terus tumbuh, identitas tetap punya ruang untuk hidup.





