CIKARANG SELATAN, Swara Bekasi — Inovasi Puspita Sakura yang dikembangkan Kepala Puskesmas Sukadami Kabupaten Bekasi, dr. H. RM Adi Pranaya, MARS., MKK, berhasil lolos Tahap II seleksi penghargaan ASN Berprestasi tingkat Provinsi Jawa Barat.Inovasi berbasis pentahelix ini menjadi salah satu upaya memperluas pencegahan, edukasi, dan skrining HIV melalui pemberdayaan masyarakat dan sekolah, sekaligus mendukung target Kabupaten Bekasi Bebas HIV Tahun 2030.”Upaya menghadapi tantangan HIV tidak cukup hanya dengan menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan. Karena itu, pelayanan perlu didekatkan ke ruang kehidupan masyarakat, salah satunya melalui Posyandu dan sekolah,” ujar Adi.
Melalui inovasi tersebut, kader Posyandu diberdayakan sebagai Kader Puspita Sakura, sementara di lingkungan sekolah dikembangkan Duta Puspita Sakura yang melibatkan Kader Kesehatan Remaja dan UKS/M. Keduanya menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi, komunikasi, skrining, dan rujukan sesuai mekanisme pelayanan yang berlaku.”Gagasan utama Puspita Sakura adalah mengubah pola layanan dari pendekatan yang dominan menunggu di fasilitas kesehatan menjadi pendekatan yang lebih proaktif dengan memberdayakan jejaring masyarakat dan sekolah,” jelasnya.
Inovasi ini dikembangkan untuk menjawab sejumlah persoalan layanan HIV, mulai dari koordinasi lintas program dan sektor yang belum terpadu, rendahnya cakupan skrining, keterbatasan akses masyarakat, edukasi yang belum optimal, stigma terhadap HIV, hingga keterbatasan sumber daya untuk memperluas jangkauan pelayanan.”Melalui pemberdayaan masyarakat dan sekolah, kami ingin memperluas kepedulian dan edukasi HIV sekaligus meningkatkan deteksi dini melalui skrining, termasuk menjangkau masyarakat yang sebelumnya belum terhubung dengan layanan,” ungkap Adi.Puspita Sakura juga diperkuat dengan sejumlah perangkat implementasi, di antaranya SOP, Buku Panduan Puspita Sakura, e-book panduan,
Kartu Puspita Sakura, serta instrumen skrining berbasis Google Form. Pengembangannya mendapat dukungan lintas sektor dan melibatkan kolaborasi dengan lima LSM peduli HIV serta mitra lainnya.”Keberhasilan inovasi ini bukan semata-mata diukur dari penghargaan, tetapi dari seberapa jauh Puspita Sakura mampu memperluas jangkauan pencegahan, meningkatkan kesadaran, memperkuat skrining sejak dini, dan menghubungkan masyarakat yang membutuhkan dengan layanan kesehatan,” imbuh Adi.Ke depan, Puspita Sakura diharapkan semakin memperkuat kolaborasi antara Puskesmas, Posyandu, sekolah, pemerintah desa, perangkat daerah, komunitas, dunia usaha, dan mitra strategis lainnya.”Gerakan kolaboratif harus terus diarahkan untuk memperluas upaya mitigasi HIV dan mendukung terwujudnya Kabupaten Bekasi Bebas HIV Tahun 2030,” terangnya.








