
Panggung Wayang Terganggu, Etika Pejabat Dipertanyakan!
BEKASI TIMUR, KOTA BEKASI — Ada ironi yang patut direnungkan dari sebuah acara yang mengusung nama Harmoni Nusantara Spirit 18. Di tengah semangat merawat kebersamaan, menghormati budaya, dan membangun harmoni masyarakat, justru muncul pengalaman yang menyisakan kekecewaan mendalam bagi para pelaku seni yang telah mempersiapkan pertunjukan dengan sepenuh hati.
Jumat malam, 23 Oktober 2026, dalam rangka pelantikan Ketua dan Pengurus RW 18 Wisma Jaya, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Sanggar Seni Wayang Ajen Diversity menghadirkan pertunjukan Wayang Ajen Junior yang dibawakan dalang muda wanita berusia 10 tahun, Angelica Sitinjak Ajen.
Pertunjukan ini bukan sekadar pengisi acara. Di dalamnya ada proses latihan, pembinaan, kreativitas, pengorbanan waktu, persiapan artistik, serta misi memperkenalkan seni pedalangan kepada masyarakat dan generasi muda.
Namun, menurut keterangan penyelenggara, suasana pertunjukan berubah ketika sekitar pukul 21.30 WIB, saat Angelica sedang tampil, seorang pejabat kecamatan yang duduk di kursi kehormatan berdiri. Sejumlah tamu di sekitarnya kemudian turut berdiri, bersalaman, berbincang, dan melakukan swafoto. Aktivitas tersebut berlanjut hingga ke area panggung ketika pertunjukan masih berlangsung.
Situasi itu dinilai mengganggu konsentrasi penonton dan jalannya pertunjukan. Pihak penyelenggara menyatakan bahwa penampilan yang telah dipersiapkan secara serius tersebut akhirnya tidak dapat dilanjutkan sesuai rencana.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan mendasar: ketika seorang anak sedang berjuang menampilkan karya seni di atas panggung, pantaskah perhatian justru teralihkan oleh aktivitas seremonial dan swafoto?
Ini bukan semata persoalan sopan santun di sebuah acara. Ini menyangkut penghargaan terhadap proses kreatif, penghormatan kepada seniman, dan keteladanan pejabat publik di hadapan masyarakat.
PIDATO BOLEH BERAPI-API, TETAPI PENGHARGAAN HARUS TERBUKTI DALAM PERILAKU!
Pejabat publik tentu berhak bersilaturahmi, menyapa warga, dan mengabadikan momen kebersamaan. Tidak ada yang salah dengan itu.
Namun, ada waktu dan tempat yang patut dihormati.
Ketika pertunjukan sedang berlangsung, panggung bukanlah ruang bebas untuk lalu-lalang, berbincang, atau melakukan aktivitas yang mengalihkan perhatian. Panggung adalah ruang kerja para seniman. Di sana ada konsentrasi, irama, dialog, gerak, dan kesinambungan pertunjukan yang tidak selalu bisa dihentikan lalu dimulai kembali sesuka hati.
Apalagi ketika yang tampil adalah seorang anak berusia 10 tahun yang sedang belajar membangun keberanian, kedisiplinan, dan kepercayaan diri melalui seni tradisi.
Jangan sampai pejabat fasih berbicara tentang etika di podium, tetapi lupa mempraktikkannya ketika berhadapan dengan karya masyarakat.
Sebab, etika bukan sekadar materi pidato. Etika adalah kesanggupan menghormati orang lain, termasuk ketika tidak ada kamera yang diarahkan kepada kita.
Ironi inilah yang perlu menjadi bahan evaluasi bersama.
Apa artinya berbicara tentang pembangunan karakter jika proses pembentukan karakter seorang anak di atas panggung justru tidak memperoleh ruang penghormatan yang semestinya?
Apa artinya menggaungkan kebudayaan jika pelaku seni yang telah bekerja keras justru merasa diabaikan? Apalagi dengan semangat Bekasi Keren untuk mewujudkan budaya untuk menungkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dan apa artinya mengajak masyarakat menghormati nilai-nilai budaya jika pada saat yang sama, tata krama dalam menikmati pertunjukan tidak dijaga?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan vonis terhadap seseorang. Ini adalah kritik terhadap perilaku yang patut dievaluasi dan pembelajaran bagi siapa pun yang memegang amanah publik.
ANGELICA BUKAN SEKADAR PENGISI ACARA. IA SEDANG MEMPERJUANGKAN MASA DEPAN BUDAYA!
Di balik penampilan Angelica, ada proses pembinaan yang tidak berlangsung dalam semalam.
Ada seorang anak yang belajar memainkan wayang, mengolah suara, memahami karakter, menjaga irama, membangun dialog, dan menyampaikan pesan moral kepada masyarakat.
Ada pula keluarga yang memberikan dukungan, serta pelatih dan pengasuh sanggar yang mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, dan pengalaman untuk mempersiapkan pertunjukan.
Seni pedalangan menuntut lebih dari sekadar keberanian tampil. Dalang harus mampu menyelaraskan gerak wayang, suara, musik, cerita, humor, dan pesan yang hendak disampaikan.
Dalam pertunjukan ini, Angelica dirancang untuk menghadirkan pesan tentang kerukunan warga, toleransi, gotong royong, kebersihan lingkungan, literasi, penggunaan teknologi secara bijak, dan kecintaan terhadap kebudayaan Indonesia.
Dengan kata lain, panggung tersebut membawa misi pendidikan.
Maka, ketika pertunjukan terganggu, yang dipertaruhkan bukan hanya kelancaran sebuah acara. Ada proses belajar seorang anak, kerja kolektif para pelaku seni, dan kesempatan masyarakat menyaksikan sekaligus memaknai warisan budaya.
Karya seni masyarakat bukan dekorasi untuk mempercantik acara. Seniman bukan pelengkap protokoler. Dan anak-anak yang berkarya bukan sekadar objek untuk dipamerkan dalam foto dokumentasi.
Mereka adalah manusia yang memiliki martabat, karya, dan hak untuk memperoleh penghargaan yang layak.
SUARA ORANG TUA: BANGGA MELIHAT ANAK BERKARYA, TERLUKA KETIKA PANGGUNGNYA TIDAK DIHORMATI
Siska Fitriana Sitinjak, orang tua Angelica, menyampaikan rasa terima kasih kepada Ki Dalang Wawan Ajen atas bimbingan, kepercayaan, dan kesempatan yang diberikan kepada putrinya untuk mewakili Wayang Ajen Junior dalam acara tersebut.
Ia mengaku bangga karena Angelica memperoleh kesempatan memperkenalkan kebudayaan melalui seni wayang sekaligus menyampaikan pesan moral kepada masyarakat.
Namun, kebanggaan itu bercampur dengan kekecewaan.
Menurut Siska, keluarga berharap Angelica dapat tampil secara utuh dan memperoleh kesempatan menyampaikan pesan budaya sebagaimana yang telah dipersiapkan. Kenyataan bahwa perhatian di sekitar panggung teralihkan oleh aktivitas sejumlah tamu membuat pengalaman tersebut meninggalkan kesedihan.
Ia juga menyampaikan harapan agar ke depan setiap panggung kebudayaan benar-benar menjadi ruang untuk saling menghormati, bukan sekadar seremoni atau pelengkap acara.
Pesan seorang ibu ini patut didengar.
Di balik setiap anak yang tampil di panggung, ada orang tua yang menanamkan keberanian, mendukung proses latihan, dan berharap anaknya tumbuh melalui pengalaman yang baik.
Ketika seorang anak tampil membawa nama sanggar dan misi kebudayaan, penghormatan paling sederhana yang dapat diberikan penonton adalah memberikan perhatian selama pertunjukan berlangsung.
Tidak harus tepuk tangan meriah. Tidak harus pujian berlebihan. Cukup dengan menghargai proses dan memberikan ruang bagi karya untuk disampaikan.
Bukankah itu bagian mendasar dari pendidikan karakter yang selama ini kita harapkan tumbuh di tengah masyarakat?
KEPADA PARA PEJABAT: JANGAN HANYA HADIR SECARA FISIK, HADIRLAH DENGAN PENGHARGAAN!
Kehadiran pejabat dalam kegiatan masyarakat seharusnya menjadi kesempatan untuk mendengarkan, melihat, dan memahami kehidupan warga secara langsung.
Termasuk memahami bahwa di lingkungan masyarakat terdapat banyak orang yang bekerja tanpa sorotan, tanpa panggung kehormatan, dan tanpa fasilitas istimewa.
Mereka adalah seniman, pelatih, guru, penggerak komunitas, pemuda, dan orang tua yang terus menjaga kehidupan sosial serta kebudayaan melalui kerja nyata.
Mereka tidak selalu meminta penghargaan. Sering kali, mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk berkarya dan perlakuan yang menghormati usaha mereka.
Karena itu, kritik ini perlu disampaikan secara terbuka: jabatan memberikan kewenangan, tetapi tidak mengurangi kewajiban untuk menghormati orang lain.
Semakin tinggi posisi seseorang dalam pemerintahan, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberikan teladan.
Jika ada agenda lain yang mendesak, sampaikan dengan santun. Jika perlu bersalaman atau berfoto, tunggulah sampai pertunjukan selesai. Jika harus meninggalkan tempat duduk, lakukan tanpa mengganggu penampil dan penonton lainnya.
Hal-hal sederhana semacam ini justru menunjukkan kualitas kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari.
Pejabat tidak harus selalu menjadi pusat perhatian. Sesekali, berikanlah panggung sepenuhnya kepada masyarakat yang sedang berkarya.
Sebab, pemimpin yang menghargai rakyat tidak selalu harus berdiri di depan kamera. Terkadang, ia cukup duduk dengan tertib, menyimak, dan membiarkan karya rakyatnya bersinar.
UNDANG-UNDANG PEMAJUAN KEBUDAYAAN JANGAN BERHENTI SEBAGAI DOKUMEN!
Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
Semangat pemajuan kebudayaan menuntut adanya upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.
Namun, semangat tersebut tidak akan berarti optimal apabila penghormatan terhadap pelaku budaya hanya muncul dalam sambutan resmi, peringatan hari besar, atau seremoni pemerintahan.
Pemajuan kebudayaan harus terlihat dalam tindakan sehari-hari.
Terlihat ketika pemerintah memberikan ruang bagi seniman lokal. Terlihat ketika komunitas memperoleh kesempatan menampilkan karya. Terlihat ketika anak-anak yang belajar seni mendapatkan dukungan. Dan terlihat ketika pejabat memberikan teladan dalam menghargai kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.
Peristiwa di RW 18 Wisma Jaya ini semestinya menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar perdebatan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar.
Kita membutuhkan budaya birokrasi yang lebih peka terhadap kerja kreatif masyarakat. Kita membutuhkan penyelenggaraan acara yang menghormati penampil. Dan kita membutuhkan pejabat yang memahami bahwa kebudayaan bukan sekadar ornamen acara pemerintahan.
Jangan sampai kebudayaan dielu-elukan dalam pidato, tetapi diabaikan ketika sedang dipertunjukkan.
Jangan sampai slogan pelestarian terdengar megah, sementara para pelaku seni harus berjuang sendirian untuk memperoleh penghargaan yang paling mendasar.
Dan jangan sampai generasi muda diajarkan untuk menghormati tradisi, tetapi justru menyaksikan contoh yang bertentangan dengan nilai tersebut.
INI BUKAN PERMINTAAN UNTUK DIAGUNG-AGUNGKAN. INI TUNTUTAN UNTUK SALING MENGHORMATI.
Sebagai pendiri dan pengasuh Sanggar Seni Wayang Ajen Diversity, Ki Dalang Wawan Ajen menyampaikan kekecewaan atas terganggunya pertunjukan yang telah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.
Persiapan tersebut melibatkan konsep cerita, latihan dalang muda, penataan artistik, musik, kostum, serta dukungan berbagai pihak yang ingin menghadirkan pertunjukan bermakna bagi masyarakat.
Kekecewaan ini bukan berarti pelaku seni menuntut perlakuan istimewa.
Yang diharapkan adalah penghormatan yang wajar terhadap proses berkesenian dan kesadaran bahwa sebuah pertunjukan membutuhkan perhatian serta ruang yang memadai agar dapat berlangsung dengan baik.
Karya masyarakat tidak harus dipuji secara berlebihan. Namun, jangan pula diperlakukan seolah-olah tidak memiliki nilai.
Seniman tidak meminta pejabat kehilangan hak untuk bersilaturahmi. Mereka hanya berharap agar silaturahmi tidak dilakukan dengan cara yang mengganggu pertunjukan.
Kritik ini juga bukan penolakan terhadap pemerintah. Justru sebaliknya, kritik merupakan bagian dari harapan agar hubungan antara pemerintah dan masyarakat dibangun di atas rasa saling menghormati.
Kami berharap pihak terkait bersedia melakukan evaluasi, memahami dampak yang dirasakan oleh penyelenggara dan penampil, serta menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran untuk kegiatan masyarakat berikutnya.
Tidak perlu saling merendahkan. Tidak perlu memperbesar persoalan pribadi. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk mendengar, mengakui bahwa ada hal yang perlu diperbaiki, dan menunjukkan perubahan melalui tindakan nyata.
PESAN TERAKHIR: KAMERA BISA MENGABADIKAN WAJAH, TETAPI ETIKA YANG MENINGGALKAN KESAN
Harmoni Nusantara seharusnya menjadi perjumpaan yang menguatkan persaudaraan, bukan pengalaman yang membuat pelaku seni merasa diabaikan.
Pelantikan pengurus RW seharusnya menjadi momentum membangun keteladanan, bukan sekadar pergantian jabatan.
Dan panggung budaya seharusnya menjadi tempat nilai-nilai luhur dipraktikkan, bukan hanya disebutkan.
Kepada siapa pun yang memegang amanah publik, mari belajar dari peristiwa ini.
Sebelum meminta masyarakat menghormati budaya, tunjukkanlah terlebih dahulu bagaimana budaya itu dihormati.
Sebelum mengajak warga menjaga etika, praktikkanlah etika dalam tindakan.
Sebelum berbicara tentang pembangunan karakter generasi muda, berikanlah contoh yang layak mereka teladani.
Sebab, anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita ucapkan. Mereka belajar lebih banyak dari apa yang kita lakukan.
Jabatan bisa membuat seseorang duduk di kursi kehormatan. Namun, sikap dan perilakulah yang menentukan apakah ia benar-benar menghormati orang lain.
Panggung bisa selesai. Acara bisa bubar. Foto bisa tersimpan dalam galeri. Tetapi cara kita memperlakukan karya dan martabat orang lain akan selalu meninggalkan pelajaran.
Semoga peristiwa ini menjadi titik refleksi bagi seluruh pihak, khususnya penyelenggara kegiatan pemerintahan dan pejabat publik, agar ke depan semakin menghormati seni, seniman, dan proses kreatif masyarakat.
Karena kebudayaan tidak tumbuh dari pidato semata.
Kebudayaan tumbuh ketika dihargai, diberi ruang, dibina, dan diwariskan dengan keteladanan.
Salam Budaya.
Sanggar Seni Wayang Ajen Diversity
Dari Pelestarian Menuju Keberlanjutan. Dari Karya Menuju Penghargaan. Dari Budaya Menuju Peradaban.
