LATAR BELAKANG Ondel-ondel merupakan boneka raksasa Betawi yang terbuat dari bambu. Namun, bagaimana dengan Ondel-ondel dari manusia? Tubuh kaku layaknya kerangka bambu, menari kesana-kemari dan sesekali menggerakkan tangan tanpa ekspresi, Onde-ondel manusia ini disebut Barong.
Sebuah tradisi yang tergantikan bahkan sempat terlupakan. Tradisi yang ada di dalam jiwa dan nurani masyarakat Bekasi, tetapi tidak mampu terlupakan dalam sebuah pertunjukan. Barong merupakan komponen utama dalam Tradisi Ngarak Barong yang pernah punah dan kini terlestari di kampung Legok Kota Bekasi.
Tradisi Ngarak Barong adalah sebuah tradisi arak-arakan sepasang barong yang menggunakan kedok atau topeng mengelilingi kampung. Kata “Barongan” atau “Bareng” berasal dari kalimat ajakan orang Betawi, “Yok, kita ngarak bareng-bareng”.
Tradisi Ngarak Barong merupakan tradisi yang sangat tua dari ratusan tahun lalu. Tercipta dari acara khitanan anak Sultan Banten, Pangeran Abdul Mufakhir tahun 1605, tradisi ini acapkali dipertunjukkan di Batavia pada saat kesultanan Banten memegang kekuasaan daerah tersebut.
Seorang wisman asal Amerika bernama E.R. Scidmore yang menetap di Batavia mengabadikan pertunjukan tari Betawi dalam laporannya yang berjudul “Java, The Garden of The East” di akhir abad ke-19. Hal ini diperkuat dengan pernyataan W. Scot seorang pedagang Inggris mengenai boneka seperti Ondel-ondel dalam bukunya di abad ke-17.
Tahun 1940 Tradisi Ngarak Barong memasuki Kota Bekasi sebagai ritual penolak bala. Dilakukan mendekati waktu panen, tradisi ini bertujuan menolak wabah yang dapat merusak hasil panen.
Lagu Benyamin Sueb yang berjudul “Ondel-ondel” melatarbelakangi terjadinya transformasi budaya di Batavia, dari Barong menjadi Ondel-ondel pada tahun 1970.
Sedangkan nama Barong tidak hilang dan tetap dipertahankan oleh masyarakat Kota Bekasi. Namun, urbanisasi yang mengikis luas sawah, kebun, dan rawa-rawa di Kota Bekasi merubah tujuan Tradisi Ngarak Barong yang semula menolak bala, menjadi sarana silaturahmi seminggu setelah lebaran dengan tetap mempertahankan nilai gotong-royong dan berbagi.
ISI
Penelitian kualitatif dengan metode wawancara dilakukan guna memperdalam informasi mengenai faktor punah dan kembalinya Tradisi Ngarak Barong. Drs. Maja Yusirwan, M.Pd atau Maja Irone yang kerap disapa Aki Maja merupakan seorang budayawan Bekasi yang merekacipta tradisi tersebut.
Dalam wawancara tanggal 19 Juli 2023, Aki Maja memaparkan tentang seorang tokoh penggagas Tradisi Ngarak Barong di Kota Bekasi yang sering disebut Mang Samin Boing. Beliau adalah seorang pengrajin kedok atau topeng yang digunakan dalam Tradisi Ngarak Barong.
Mang Samin Boing menghadirkan impresi menyeramkan di setiap kedok Barong yang dibuatnya. Orang-orang Betawi zaman dulu sangat identik dengan warna merah dan putih, sehingga warna itulah yang digunakan sebagai warna Kedok Barong. Kegagahan dan patriotisme dilambangkan dengan warna merah pada kedok laki-laki. Sedangkan kedok perempuan menggunakan warna putih yang berarti ketulusan, kehalusan budi, dan kelembutan.
Mitos yang beredar di masyarakat, apabila ada yang bisa mengambil dan menyimpan salah satu bagian tubuh Barong seperti rambut ijuk atau daun beringin dibagian belakang kepala Barong, maka akan mendapatkan keberkahan, keberuntungan, dan mengusir wabah serta makhluk-makhluk jahat dari rumah atau lingkungan orang tersebut.
Masyarakat berasumsi bahwa seluruh bagian yang dipakai Barong dipercaya dapat membawa pituah, sehingga dapat menjadi penangkal untuk ibu hamil, agar terhindar dari makhluk-makhluk jahat. Ritual sebelum Tradisi Ngarak Barong diawali dengan pencarian empat orang warga yang sukarela menjadi sepasang Barong dan sepasang pengantin. Pada saat itu, tidak ada perempuan yang berani mengikuti ritual tersebut, sehingga seluruh pemeran Barong dan pengantin adalah laki-laki.
Di setiap tahunnya pemeran Barong dan pengantin selalu sama, karena tidak ada warga yang berani dan bersedia untuk menggantikan mereka. Ketika hari pelaksanaan Tradisi Ngarak Barong, sepasang pengantin akan dirias oleh istri Mang Samin Boing yang merupakan seorang perias pengantin. Beliau terkenal dengan kemampuan meriasnya yang bisa membuat pengantin tidak dapat dikenali, sehingga bisa merubah laki-laki menjadi pengantin perempuan. Setelah pengantin dirias, pemeran Barong memasuki ruangan khusus milik Mang Samin Boing yang berbentuk bilik.
Ketika melangkahkan kaki memasuki bilik, kesadaran mereka menghilang. Duduk sila berhadapan dengan Mang Samin Boing yang terpisahkan oleh meja kecil. Mantra-mantra dirapalkan guna memanggil roh atau arwah para leluhur. Setiap kata yang terucap dari Mang Samin Boing menghadirkan arwah leluhur yang perlahan berkumpul di tubuh Barong.
Penggabungan kekuatan para leluhur dipercaya mampu menolak bala dan mengusir makhluk-makhluk jahat. Kemudian, Barong meminum kopi sebagai penanda telah berkumpulnya arwah para leluhur.
Tatapan kosong yang tertutupi kedok menyeramkan keluar dari bilik Mang Samin Boing. Pergerakan kaku layaknya kerangka rotan menghantarkan Barong memasuki barisan arak-arakan. Barisan dipimpin oleh sepasang pengantin dengan pakaian khas Betawi. Sepasang Barong mengiringi dibelakang mereka dan diikuti oleh dua atau empat orang menggotong wadah makanan yang disebut Cepu. Barisan disambung oleh para Jawara dan Bedug pengiring arak-arakan.
Kerumunan masyarakat ikut mengarak Barong mengelilingi kampung. Pukulan Bedug pertama menandakan arak-arakan dimulai. Seketika Barong menari dan berputar tidak tentu arah mengelilingi kampung dari rumah ke rumah. Setiap rumah di sepanjang jalan arak-arakan akan memberikan kue, buah, dan makanan yang disebut Penganan. Cepu yang dipenuhi Penganan dihantarkan ke tanah lapang atau perempatan jalan. Penganan dihampar dengan beralaskan tikar dan dikelilingi masyarakat yang siap berebut. Di tempat itu sudah terdapat Ende Majid yang bertugas membacakan mantra dan doa untuk hamparan Penganan. Setelah mantra dan doa dilafalkan, masyarakat saling berebut mengambil Penganan. Namun, tradisi belum selesai,
Barong harus diarak pulang ke rumah Mang Samin Boing untuk dibersihkan dari arwah para leluhur. Setelah dibersihkan, para pemeran Barong akan kembali sadar dan tidak mengingat peristiwa arak-arakan. Kehilangan dirasakan masyarakat Bekasi semenjak punahnya Tradisi Ngarak Barong. Aki Maja mengatakan, tradisi tersebut punah karena sang maestro Barong, Mang Samin Boing meninggal dunia sekitar tahun 1980. Di tahun 2016, sebagai keponakan Mang Samin Boing dan budayawan Bekasi yang masih mengenang kesakralan Tradisi Ngarak Barong, Aki Maja membangkitkan kembali tradisi penolakan bala yang sempat punah termakan zaman.
Mencoba membangkitkan memori untuk dipertunjukkan kepada remaja masa kini. Ritual dan mantra yang terkubur bersama kepergian Mang Samin Boing, hanya menyisakan sedikit ingatan dalam benak seorang muridnya yang sangat beresiko apabila dilaksanakan secara paksa. Eyang Ganjar seorang seniman membantu Aki Maja menciptakan koreografi tari Ngarak Barong. Visualisasi rasa takut Barong, di gambarkan Eyang dengan gerakan kepala celingak-celinguk. Barong yang dulu sebagai penolak bala, kini mengalami modernitas dengan nilai silaturahmi, edukasi, dan entertainment. PENUTUP Peran teknologi tentu tidak luput dari suksesnya pelestarian Tradisi Ngarak Barong. Usaha dan keteguhan Aki Maja membangkitkan Barong Bekasi tertuang dalam buku berjudul “Mengenal Tari Barong Bekasi”. Edukasi dan publikasi Tradisi Ngarak Barong perlahan terealisasi dengan terbitnya jurnal karya mahasiswa Unas dan Unindra juga visualisasi tradisi yang tersaji di kanal YouTube pribadi Aki Maja.
Aki Maja berharap semakin banyak muda mudi yang berpartisipasi dalam Tradisi Ngarak Barong Bekasi. Kehadiran Tradisi Ngarak Barong selalu dinanti masyarakat Bekasi.
Litarasi SMAN 18 Kota Bekasi dalam rangka imlpmentasi Kurikulum Masagi
Aulia Kartika Ningrum
Eva Dwi Marini
Ibtisamah Aulia Bilqis
Narasumber: Maja Yusirwan M.Pd.
( Ka.Bid. Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi)
Guru pendamping:
- Khlara Nana melati D. M.Si
- Sabri S.Pd













