Saudara-saudarikuh sebangsa setanah air, dan para netizen budiman yang selalu on dua puluh empat jam!
Mari sejenak kita menundukkan kepala, bukan untuk merenung, tapi mungkin lebih tepatnya untuk memeriksa notifikasi ponsel kita. Ya, hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional! Sebuah tanggal keramat yang mengingatkan kita pada para Boedi Oetomo di tahun 1908. Bayangkan, di tengah keterbatasan informasi, akses pendidikan yang sulit, dan belenggu penjajahan, mereka punya gagasan cemerlang untuk bangkit. Bangkit dari keterpurukan, bangkit dari kebodohan, dan bangkit untuk masa depan bangsa. Sebuah semangat yang, jujur saja, bikin kita yang hidup di era broadband super cepat ini jadi sedikit… minder?
Mereka dulu berjuang dengan pena, buku, dan diskusi panjang di ruangan berasap rokok kretek. Kita? Kita berjuang dengan keyboard, scroll tanpa henti, dan debat kusir di kolom komentar yang kadang lebih panas dari api unggun. Dulu, kebangkitan berarti melek huruf dan berpikir kritis. Sekarang, kebangkitan berarti viral dan trending topic. Dulu, mereka memikirkan nasib bangsa di masa depan. Sekarang, kita memikirkan bagaimana foto selfie kita bisa dapat banyak likes.
Pemuda 1908 mungkin akan tercengang melihat kita. “Apa kabar dengan semangat persatuan? Apa kabar dengan cita-cita luhur?” Mungkin mereka akan bertanya, “Apa kabar dengan buku-buku yang kalian baca? Atau jangan-jangan, hanya caption Instagram saja yang kalian baca?”
Maafkan kami, para wahai para pendahulu. Zaman memang sudah berubah. Kebangkitan kini lebih banyak terjadi di ranah digital, bukan lagi di medan perjuangan yang sesungguhnya.
Dulu, kebangkitan adalah sebuah panggilan jiwa untuk merdeka dari penjajahan. Sekarang, kebangkitan adalah panggilan notifikasi untuk segera membalas chat atau tidak ketinggalan update terbaru dari idola K-Pop. Dulu, mereka mendirikan organisasi untuk mencerdaskan bangsa. Sekarang, kita mendirikan akun-akun untuk mempromosikan diri sendiri.
Jadi, di Hari Kebangkitan Nasional ini, mari kita berkaca. Apakah kita benar-benar sudah bangkit? Atau jangan-jangan, kita hanya bangkit dari tempat tidur, lalu kembali tenggelam dalam lautan scroll yang tak berujung? Mari kita tanyakan pada diri sendiri: apa makna “bangkit” bagi kita hari ini? Apakah masih sekuat gema para pendahulu, atau sudah luntur seiring hilangnya sinyal di pedalaman?
Selamat Hari Kebangkitan Nasional! Semoga saja, kita bisa bangkit beneran, bukan cuma bangkitable di dunia maya. Aamiin 🤲.




